Exit Interview: Pelajaran Berharga dari Karyawan yang Resign di BJM

Exit Interview: Pelajaran Berharga dari Karyawan yang Resign di BJM

Exit Interview: Pelajaran Berharga dari Karyawan yang Resign di BJM

Ketika seorang karyawan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja, banyak perusahaan melihatnya sebagai kehilangan. Namun di BJM, exit interview justru menjadi sumber data berharga—bukan hanya tentang alasan resign, tetapi juga tentang perbaikan proses, budaya kerja, dan retensi di masa depan. Artikel ini membahas exit interview BJM, pelajaran yang bisa dipetik, dan bagaimana mengubah feedback menjadi aksi nyata.

Mengapa exit interview penting untuk BJM?

Exit interview bukan semata formalitas. Di BJM, sesi ini berfungsi untuk:

  • Menangkap alasan utama resign—apakah terkait kompensasi, manajemen, pengembangan karier, atau budaya kerja?
  • Mengidentifikasi pola yang berulang—misalnya, banyak karyawan dari satu departemen yang mengundurkan diri dalam waktu singkat.
  • Meningkatkan employer branding—respon yang baik dapat mengubah mantan karyawan menjadi duta merek.

Cerita singkat: Dari pengalaman Maya di BJM

Maya, seorang analis di BJM, memutuskan resign setelah tiga tahun. Di exit interview, ia jujur menyampaikan tiga hal: beban kerja yang meningkat tanpa penyesuaian gaji, kurangnya kesempatan pelatihan, dan komunikasi yang tidak konsisten dari manajer proyek. Tim HR BJM tidak langsung membantah—mereka mendokumentasikan, memverifikasi dengan data, lalu merekomendasikan tiga tindakan: review struktur beban kerja, program pelatihan triwulanan, dan pelatihan kepemimpinan untuk manajer.

Hasilnya: dalam enam bulan, tingkat turnover di tim yang sama menurun, dan beberapa mantan karyawan memberi ulasan positif setelah melihat perbaikan yang nyata. Kisah Maya menunjukkan bagaimana exit interview yang dilakukan dengan serius bisa menjadi katalis perubahan.

Cara menjalankan exit interview yang efektif di BJM

Berikut langkah-langkah praktis untuk menjalankan exit interview yang memberikan insight berguna:

  1. Persiapkan format pertanyaan—gabungkan pertanyaan terbuka dan tertutup untuk mendapatkan data kuantitatif dan kualitatif.
  2. Pilih pewawancara netral—biasanya HR atau pihak ketiga agar mantan karyawan merasa lebih bebas bicara.
  3. Jaga kerahasiaan—jelaskan bagaimana data akan digunakan dan siapa yang akan mengaksesnya.
  4. Follow-up dengan tindakan—laporkan temuan dan rencana perbaikan kepada manajemen dalam jangka waktu yang jelas.
  5. Dokumentasikan dan analisis tren—gabungkan hasil exit interview ke database untuk melihat pola jangka panjang.

Pertanyaan yang sering muncul (FAQ)

1. Apa bedanya exit interview dengan survey kepuasan kerja?

Exit interview dilakukan saat karyawan sudah memutuskan keluar, sehingga jawabannya cenderung lebih jujur dan reflektif. Survey kepuasan kerja biasanya dilakukan saat masih bekerja dan bersifat preventif. Keduanya saling melengkapi: satu mencegah, satu memperbaiki.

2. Apakah karyawan akan jujur saat exit interview?

Keterbukaan tergantung pada suasana percaya dan kerahasiaan. Di BJM, pendekatan yang bersahabat, pewawancara netral, dan jaminan anonim sering membuat mantan karyawan lebih terbuka. Tetap ada kemungkinan informasi bias—oleh karena itu, cross-check dengan data lain dianjurkan.

3. Berapa lama sebaiknya exit interview berlangsung?

Sesi ideal berkisar antara 30–60 menit. Cukup panjang untuk menggali insight penting, tetapi tidak melelahkan. Jika ada isu sensitif, jadwalkan sesi lanjutan atau tawarkan opsi menulis feedback.

4. Bagaimana cara mengubah feedback menjadi aksi nyata?

Gunakan pendekatan berjenjang:

  • Validasi—cek apakah isu yang disebut juga muncul di survei atau data HR lainnya.
  • Prioritaskan—fokus pada masalah yang berdampak luas atau berisiko tinggi.
  • Rancang intervensi—misalnya redesign job description, program pelatihan, atau revisi kompensasi.
  • Ukur hasil—tetapkan metrik (turnover, NPS karyawan, durasi rekrutmen) untuk menilai efektivitas.

Contoh pertanyaan exit interview yang efektif

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa dipakai di BJM untuk mendapatkan insight yang berguna:

  • Apa alasan utama Anda memutuskan untuk resign?
  • Bagaimana pengalaman Anda dengan manajemen langsung dan komunikasi tim?
  • Apakah Anda merasa mendapat kesempatan berkembang di sini?
  • Apa yang seharusnya bisa kami lakukan berbeda agar Anda tetap bertahan?
  • Apakah Anda memiliki saran konkret untuk meningkatkan kultur atau proses kerja?

Kesalahan umum yang harus dihindari

  • Mengabaikan hasil—mengumpulkan data tapi tidak ada aksi membuat exit interview kehilangan nilai.
  • Menilai secara emosional—jangan langsung membela atau menyalahkan; proses validasi diperlukan.
  • Tidak menjamin kerahasiaan—tanpa jaminan ini, banyak orang akan menahan diri.

Tips praktis untuk manajer dan HR di BJM

  • Jadikan exit interview sebagai bagian standar proses keluar karyawan.
  • Sediakan opsi anonim untuk mengumpulkan feedback tambahan.
  • Komunikasikan hasil perbaikan kepada seluruh tim—menunjukkan bahwa feedback dihargai.
  • Gunakan data exit interview untuk menyusun strategi retensi jangka panjang.

Penutup

Exit interview di BJM bisa jadi momen refleksi yang sangat produktif jika dijalankan dengan cara yang tepat. Dari cerita Maya sampai langkah-langkah praktis di atas, inti yang perlu diingat adalah: mendengar dengan serius, memvalidasi data, lalu mengambil tindakan. Itu yang mengubah feedback menjadi perubahan nyata.

Jika Anda ingin template pertanyaan exit interview atau contoh laporan yang bisa langsung dipakai di BJM, beri tahu saya—saya senang membantu!